Cari Blog Ini

Selasa, 24 Maret 2015

BAB IV



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.    Deskripsi Hasil Penelitian
1.   Deskripsi Hasil Belajar Siswa
Data hasil pengolahan skor pre-test, post-test dan gain hasil belajar siswa pada materi pokok fluida pada kelas eksperimen dan kelas kontrol selengkapnya dapat di lihat pada Lampiran – 18.
   Tabel 4.1.  Deskripsi Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
NILAI
KELAS EKSPERIMEN
KELAS  KONTROL
Pre-test
Post- test
gain
Pre-test
Post-test
gain
Maksimum
46
75
0,61
54
75
0,67
Minimum
25
54
0,27
25
46
0,15
Rata-rata
33
64
0,45
37
58
0,33
SD
6
5
0,09
7,6
7
0,13
N
20
22
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa skor maksimum pre-test kelas eksperimen dan kelas kontrol masing-masing 46 dan 54 sedangkan skor minimum pre-test kelas eksperimen dan kelas kontrol masing-masing 25. Kemudian dilakukan test setelah proses pembelajaran berlangsung  (post-test) nilai maksimum siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol masing-masing adalah 75. Sementara itu pula, nilai minimum kelas eksperimen dan kelas kontrol dari hasil post-test masing-masing 54 dan 46. Nilai rata-rata pre-test siswa kelas eksperimen sebesar 33 dan nilai rata-rata  pre-test  pada kelas kontrol sebesar 37, sedangkan skor rata-rata post-test pada kelas eksperimen sebesar 64  dan skor rata-rata post-test kelas kontrol sebesar 58. Dari tabel diatas pula diperoleh bahwa standar deviasi kelas eksperimen dan kelas kontrol dari hasil pre-test sebesar 6 dan 7,6 sedangkan setelah dilakukan post-test diperoleh standar deviasi untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol masing-masing sebesar 5 dan 7.
Untuk lebih jelasnya deskripsi hasil belajar siswa kelas eksperimen maupun kelas kontrol ditampilkan pada gambar 4.1 berikut ini:
Gambar 4.1 Profil Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen dan Siswa Kelas Kontrol

Sedangkan pengkategorian perolehan untuk kelas eksperimen maupun kelas kontrol di sajikan pada Tabel berikut:





Tabel 4.2. Deskripsi Pengkategorian Data Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Nilai Interval
Kategori
Hasil Belajar
Kelas Eksperimen
Kelas Kontrol
Pre-test
Post-test
Pre-test
Post-test
f
%
f
%
f
%
f
%
0  -  40
Gagal
11
37.93
0
0
8
26.67
0
0
41 - 55
Kurang
12
41.38
0
0
14
46.67
3
10
56 - 65
Cukup
6
20.69
3
10.34
7
23.33
18
60
66 -  80
Baik
0
0
23
79.31
1
3.33
9
30
81 - 100
Baik Sekali
0
0
3
10.34
0
0
0
0
Jumlah
29
100
29
100
30
100
30
100

Dari Tabel 4.2 diatas hasil belajar pre-test kelas eksprimen yang  memperoleh kategori gagal mencapai 37.93% sedangkan kelas kontrol hanya mencapai 26.67%. Hasil belajar pre- test dengan  kategori kurang kelas eksperimen mencapai 41.38% sedangkan kelas kontrol mencapai 46.67%. Selain itu, hasil belajar yang diperoleh dari pre-test kategori cukup kelas eksperimen mencapai 20.69%, sedangkan kelas kontrol mencapai 23.33%. Sedangkan untuk kategori baik tidak ditemukan pada kelas eksperimen sedangkan pada kelas kontrol 3.33%. Selain itu  terlihat pula bahwa baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol hasil belajar pre-tes kategori sangat baik sekali tidak ada sama sekali . 
Demikian juga dari Tabel 4.2 diungkapkan pula hasil belajar post-test kategori gagal tidak ditemukan baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Untuk kategori kurang hasil belajar post-test kelas eksperimen tidak ditemukan, sedangkan pada kelas kontrol mencapai 10%. Sementara itu hasil belajar post-test kategori cukup kelas eksperimen 10.34 % sedangkan kelas kontrol mencapai 60%. Untuk hasil belajar post-test kategori baik kelas eksperimen mencapai 79.31% sedangkan kelas kontrol mencapai 30%. Sementara itu, hasil belajar post-test kategori baik sekali untuk kelas eksperimen diperoleh 10.34%, sedangkan pada kelas kontrol tidak ditemukan.
Untuk lebih jelasnya deskripsi hasil belajar siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol ditampilkan pada gambar 4.2 berikut ini:
Gambar 4.2 Profil Hasil Belajar Pre-test Siswa Kelas Eksperimen dan Siswa Kelas Kontrol

Dari grafik diatas terlihat bahwa hasil pre test kategori gagal kelas eksperimen persentasenya lebih besar dari pada kelas kontrol. Sementara itu pula hasil pre test kategori kurang untuk kelas eksperimen lebih besar persentasenya dari kelas kontrol. Berikut ini di perlihatkan pula deskripsi hasil belajar post test kelas eskperimen dan kelas kontrol dalam Gambar 4.3  berikut ini :
Gambar 4.3 Profil Hasil Belajar Post-test Siswa Kelas Eksperimen dan Siswa Kelas Kontrol

Untuk melihat pengkategorian peningkatan hasil belajar (gain) yang diperoleh  siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut:
Tabel 4.3 Pengkategorian Peningkatan Hasil Belajar (gain) Siswa pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Interval Nilai
Kategori
Gain
Kelas Eksperimen
Kelas Kontrol
f
%
f
%
0 < g < 0,3
Rendah
0
0
17
56.67
0,3 < g < 0,7
Sedang
28
96.55
13
43.33
0,7 < g < 1
Tinggi
1
3.45
0
0
Jumlah

29
100
30
100

Dari Tabel 4.3 jika di plot dalam garfik akan nampak seperti grafik berikut:
Gambar 4.4 Profil peningkatan gasil belajar (gain) kelas eksperimen dan kelas kontrol

Dari grafik diatas dapat dilihat dengan jelas untuk persentase peningkatan hasil belajar dengan kateogri rendah, sedang dan tinggi. Hasil belajar dengan kategori rendah gain kelas eksperimen tidak ada sedangkan kelas eksperimen mencapai 56,67%. Gain hasil belajar dengan kategori sedang kelas eksperimen mencapai 96,55 % sedangkan kelas kontrol mencapai 43,33%. Untuk gain kategori tinggi pada kelas eksperimen mencapai 3,45% sedangkan pada kelas kontrol tidak ada.




2.   Deskripsi Hasil Analisis Inferensial
a)      Analisis Dasar-Dasar Statistik
1)   Uji Normalitas Data
Hasil uji normalitas data hasil belajar Fisika siswa kelas eksperimen  dan siswa kelas kontrol (Lampiran – 19), secara singkat disajikan pada Tabel 4.4 berikut.
Tabel 4.4. Hasil Uji Normalitas Data Hasil Belajar Siswa Kelas Ekeperimen dan Kelas Kontrol





                         








Catatan: Varians data hasil belajar  akan terdistribusi normal jika  signfikansi > α dimana α = 0,05. Dilakukan dengan uji Shapiro-Wilk

2)   Uji Homogenitas Varians Data
Hasil uji homogenitas varians data hasil belajar Fisika siswa kelas  eksperimen dan siswa kelas kontrol (Lampiran - 20), secara singkat disajikan pada Tabel 4.5 berikut:


Tabel 4.5 Hasil Uji Homogenitas Varians Data Pre-Test Kelas Ekeperimen dan Kelas Kontrol
                                   
                                                                Test of Homogeneity of Variances


Levene Statistic
df1
df2
Sig.
pre test
.713
1
40
.403
Post Test
.673
1
40
.417
Gain
4.250
1
40
.056






Catatan: Varians data hasil belajar akan homogen jika signfikansi > α dimana α = 0,05. Dilakukan dengan uji Anova

b)     Pengujian Hipotesis Penelitian
1)      Pengujian Hipotesis Pertama
Dari hasil uji beda rata-rata data pre-test kelas eksperimen dan data pre-test kelas kontrol dengan menggunakan SPSS Versi 15 diperoleh signifikansi 0,403. Karena diperoleh signifikansi > α  dimana α  = 0,05 maka dapat disimpulkan  bahwa Ho diterima dan tolak H1 artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata pre-test siswa pada kelas eksperimen dan nilai rata-rata pre-test siswa kelas kontrol.
2)      Pengujian Hipotesis Kedua
Hasil uji beda rata-rata data post-test  siswa  kelas eksperimen dan data post-test siswa kelas kontrol dengan menggunakan SPSS Versi 15 diperoleh signifikansi 0,417. Diperoleh signifikansi > α  dimana α  = 0,05 maka dapat disimpulkan H0 ditolak dan terima H1, artinya rata-rata hasil belajar (post-test) siswa kelas eksperimen lebih baik secara signifikan dari pada rata-rata hasil belajar (post-test) siswa kelas kontrol.
3)      Pengujian Hipotesis Ketiga
Hasil uji beda rata-rata data gain siswa kelas eksperimen dan data gain siswa kelas kontrol dengan menggunakan SPSS Versi 15 diperoleh signifikansi 0,056. Karena diperoleh signifikansi > α  dimana α  = 0,05 maka dapat disimpulkan H0 ditolak dan terima H1, artinya rata-rata data gain hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih baik secara signifikan dari  pada rata-rata data gain hasil belajar siswa kelas kontrol.
B.     Pembahasan
Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap proses belajar mengajar adalah strategi dalam memberikan materi pelajaran terhadap siswa  dengan tepat sehingga membangkitkan perhatian dan hasil belajar siswa selama proses belajar berlangsung. Untuk menunjukkan asumsi ini maka perlu dilakukan pembelajaran dengan metode demonstrasi pada kelas eksperimen dan model pembelajaran konvesional pada kelas kontrol. Sebagai upaya membandingkan efektivitas antara model pembelajaran konvensional dengan penggunaan metode demonstrasi maka pada awal pembelajaran diadakan pre-test dan pada akhir pembelajaran diadakan post-test. Guna mendeskripsikan hasil belajar siswa dilakukan analisis deskriptif  terhadap hasil pre-test dan post-test, selanjutnya untuk menyimpulkan bahwa antara model pembelajaran konvensional dengan metode demonstrasi berbeda secara signifikan atau tidak maka dilakukan analisis inferensial. 
Berdasarkan hasil analisis deskriptif  terhadap hasil belajar baik sebelum dan sesudah pembelajaran, diperoleh gambaran bahwa secara umum hasil belajar siswa sebelum pembelajaran pada materi pokok fluida sebagian besar termasuk dalam kategori kurang dan tidak seorangpun  siswa yang memiliki nilai kategori baik sekali, baik itu hasil belajar siswa kelas eksperimen maupun hasil belajar siswa kelas kontrol. Kurangnya hasil belajar siswa sebelum pembelajaran pada materi pokok fluida disebabkan oleh adanya faktor alamiah yaitu  para siswa yang diuji belum mendapatkan materi tentang fluida tersebut secara detail sehingga pemahaman dan pengetahuan mereka tentang tekanan masih sangat terbatas.
Setelah pembelajaran fisika pada materi fluida, siswa kelas eksperimen mengalami peningkatan hasil belajar, atau dapat dikatakan bahwa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol terjadi suatu kemajuan dimana rata-rata hasil post-test siswa lebih baik dari hasil pre-test siswa, meskipun peningkatan hasil belajar pada kedua kelas tersebut secara kuantitatif tidak sama.
Perbedaan peningkatan hasil belajar yang diperoleh pada kedua sampel ini tentunya disebabkan oleh pemberian perlakuan (treatmen) yang berbeda. Dalam proses belajar mengajar guru menjelaskan materi dengan memperlihatkan secara langsung alat atau proses dari suatu kejadian atau pembuktian dari suatu teori, sehingga siswa secara lansung dapat melihat dan memperhatikan secara langsung prinsip/ cara kerja dari alat tersebut. Pada penerapan metode demonstrasi ini secara individual, siswa dapat membandingkan antara pengetahuan yang mereka miliki sebelum mengikuti pembelajaran dengan saat setelah siswa mengikuti pembelajaran. Dalam strategi ini siswa dapat mengetahui sendiri perkembangan kemampuannya dan meningkatkam kemampuannya secara optimal, sedangkan pada siswa di kelas kontrol siswa hanya menerima pemaparan dari guru yang menerangkan di depan.
Selain itu dari penerapan metode demonstrasi ini juga terdapat peningkatan motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, itu terilhat dari salah seorang siswa putra yang juga merupakan ketua kelas dari kelas XI IPA2 yang awalnya jarang mengikuti proses pembelajaran di kelas, namun selama pembelajaran dengan menerapakan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran siswa tersebut ikut dalam proses pembelajaran.
Dengan memperhatikan uraian di atas tampak bahwa dengan menggunakan strategi pembelajaran dengan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran dapat memberikan perbedaan hasil belajar fisika siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional serta memotivasi siswa untuk mengikuti proses pembelajaran.. Kegiatan ini menunjukkan bahwa penerapan metode demonstrasi harus dapat dioptimalkan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa khususnya untuk mata pelajaran fisika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar