Cari Blog Ini

Selasa, 24 Maret 2015

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Konsep Dasar Belajar-Mengajar 1. Proses Belajar Mengajar Dalam konteks pendidikan formal di sekolah, kegiatan belajar- mengajar merupakan fungsi pokok dan usaha yang paling strategis guna mewujudkan tujuan institusional yang diemban oleh lembaga itu. Dalam rangka pelaksanaan fungsi dan tugas institusional tersebut, sistem pendidikan di sekolah menempatkan guru sebagai figur sentral. Dalam kaitannya dengan proses belajar-mengajar hingga saat ini kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran masih tetap memegang peranan penting. Masih terlalu banyak unsur-unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi, kabiasaan dan lain-lain yang diharapkan merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut. Disinilah kelebihan manusia dalam hal ini guru yang mampu memenuhi tercapainya unsur-unsur manusiawi tersebut. Salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru agar kegiatan pembelajaran berhasil adalah memahami dengan sebaik-baiknya tentang proses belajar siswa. Jika proses belajar siswa sudah dipahami oleh guru maka dengan mudah guru tersebut menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan serasi bagi siswa serta dapat pula memberikan bimbingan dengan baik. Selain upaya guru untuk memahami proses belajar siswa, berhasil tidaknya seorang siswa dalam menempuh pendidikan tergantung pada baik tidaknya kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa yang bersangkutan. Proses belajar-mengajar merupakan inti dari keseluruhan proses pendidikan, dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Belajar- mengajar adalah suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik. Hubungan timbal balik guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar-mengajar. Interaksi dari proses belajar-mengajar mempunyai arti luas, tidak sekedar hubungan antara guru dan siswa, tetapi interaksi edukatif. Dalam hal ini bukan hanya menyampaikan pesan berupa materi pelajaran melainkan juga nilai-nilai dan sikap pada diri siswa yang sedang belajar. Pengertian proses dalam tulisan ini merupakan interaksi semua komponen atau unsur-unsur yang satu sama lain saling berhubungan dalam kaitan mencapai tujuan (Usman, 1990: 17). 2. Prinsip-Prinsip Belajar Mengajar Prinsip-prinsip belajar adalah hal-hal yang sangat penting yang harus ada dalam suatu proses belajar dan pembelajaran. Jika hal tersebut diabaikan, maka dapat dipastikan pencapaian hasil belajar tidak optimal. Prinsip-prinsip belajar tersebut meliputi kesiapan belajar, perhatian, motivasi, keaktifan siswa, mengalami sendiri, pengulangan, materi pelajaran yang menantang, balikan dan penguatan, dan perbedaan individual ( Max Darsono dkk, 2000: 30). Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan yang lain memiliki persamaan dan juga perbedaan. Dari berbagai prinsip belajar tersebut terdapat beberapa prinsip yang relatif berlaku umum yang dapat kita pakai sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa untuk meningkatkan upaya belajarnya maupun bagi guru dalam upaya meningkatkan mengajarnya. Prinsip-prinsip itu berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individu dalam perilaku belajar. Perhatian dapat memperkuat kegiatan belajar, menggiatkan perilaku untuk mencapai sasaran belajar. Perhatian berhubungan dengan motivasi sebagai tenaga penggerak belajar. Motivasi belajar dapat bersifat internal atau eksternal. Kondisi perhatian dan motivasi belajar (Internal atau eksternal) tersebut mempengaruhi rekayasa secara pembelajaran siswa (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 76). 3. Motivasi Belajar Motivasi adalah usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu sehingga orang itu mau atau ingin melakukannya (Nasution, 2002:58). Motivasi yang muncul dalam diri seseorang akan menumbuhkan kemauan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dan bermanfaat. Dalam hal ini, terkandung adanya unsur harapan dan optimisme yang tinggi, sehingga memiliki kekuatan semangat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu, misalnya dalam hal belajar. Itulah yang disebut dengan motivasi belajar. Untuk siswa yang sudah senang dengan mata pelajaran fisika dan bisa mengikuti proses pembelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yakni motivasi intrinsik. Lain halnya dengan siswa yang belum ada motivasi dalam dirinya maka motivasi ekstrensik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Dalam hal inilah, peran guru sangat diperlukan untuk membangkitkan motivasi belajar siswa agar ia mau melakukan proses belajar secara terus menerus. Dengan motivasi belajar yang tinggi, diharapkan para peserta didik akan meraih prestasi belajar fisika yang memuaskan. Dari uraian di atas, dapat didefinisikan bahwa motivasi belajar merupakan daya penggerak dari dalam diri individu untuk melakukan kegiatan belajar guna menambah pengetahuan dan keterampilan serta pengalaman. Motivasi belajar bisa timbul karena dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu: 1) Faktor intrinsik, yaitu faktor internal yang timbul dari dalam diri pribadi seseorang itu sendiri yang disebabkan oleh dorongan atau keinginan akan kebutuhan belajar, harapan dan cita-cita. 2) Faktor ekstrensik, yaitu faktor eksternal yang muncul dari luar diri pribadi seseorang, yang juga mempengaruhi dalam motivasi belajar. Faktor ekstrensik dapat berupa rangsangan dari orang lain atau lingkungan sekitar yang dapat mempengaruhi psikologis orang yang bersangkutan, dapat juga adanya penghargaan, lingkungan yang menyenangkan, dan kegiatan belajar yang menarik. 4. Hasil Belajar Hasil belajar dapat diartikan sebagai suatu tingkat keberhasilan yang dicapai pada akhir suatu kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan Arifin (1991). Sehingga hasil belajar fisika dapat diartikan sebagai hasil yang dicapai dari suatu proses belajar siswa setelah mengalami kegiatan belajar- mengajar pada bidang fisika. Lebih spesifik, hasil belajar dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk mencari tujuan intruksional yang telah disusun sebelumnya. Hasil belajar biasanya ditunjukkan dengan angka-angka yang diperoleh dari hasil tes belajar siswa dan sebagai evaluasi dari proses kegiatan belajar-mengajar tersebut. Hasil belajar siswa banyak dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal siswa. Dalam kegiatan belajar-mengajar, hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa penting diketahui oleh guru dalam merencanakan kegiatan belajar-mengajar secara tepat. Sehingga secara umum, dapat didefinisikan bahwa hasil belajar adalah penguasaan yang diperoleh siswa setelah mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Setiap kegiatan belajar yang dilakukan siswa akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam dirinya. Dalam taksonomi perubahan ini diklasifikasikan dalam kognitif, afektif, dan psikomotor. Hasil belajar yang diperoleh siswa dapat diukur (diketahui) berdasarkan perbedaan perilaku sebelum dan sesudah belajar dilakukan. Hal ini sejalan dengan pendapat Syaodih, menyatakan bahwa ”hasil belajar merupakan segala perilaku yang dimiliki siswa sebagai akibat dari proses belajar yang ditempuhnya, meliputi semua akibat dari proses belajar yang berlangsung disekolah maupun diluar sekolah yang bersifat kognitif, afektif maupun psikomotor yang sengaja maupun yang tidak disengaja”. Menurut Sudjana (2002), hasil belajar adalah mencerminkan tujuan pada tingkat tertentu yang berhasil dicapai oleh siswa yang dinyatakan dengan angka atau huruf. Dalam bidang fisika hasil belajar yang dimaksud adalah tingkat penguasaan materi setelah proses evaluasi diberikan, sebagai tolak ukur kemampuan siswa setelah proses belajar- mengajar berlangsung. Hasil belajar yang diciptakan setelah terjadinya proses belajar itu, merupakan bukti utama dari proses belajar karena didalamnya akan menampakkan suatu perubahan tingkah laku sebagai cermin yang nyata dari kegiatan belajar yang khas, karena setiap macam kegiatan akan menghasilkan perubahan yang khas pula yaitu belajar. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar yang dicapai oleh seseorang merupakan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari proses belajar. Hasil belajar ini dapat berupa kemampuan intelektual (kognitif), sikap (afektif) maupun keterampilan atau skill (psikomotor). Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa kelas XI IPA SMA Swasta Muhammaduyah Kendari yang berupa nilai atau skor yang diperoleh setelah diberikan pembelajaran dengan metode demonstrasi pada proses pembelajaran. 5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Setiap kegiatan faktor hasil belajar sebagai hasil proses belajar mengajar tidak dapat dipisahkan dalam komponan atau faktor lain yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi hasil belajar Menurut Nana Sudjana (2002: 9) mengatakan bahwa: banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar, secara garis besar faktor-faktor tersebut adalah faktor internal (bersumber dari dalam diri sendiri), yaitu : sikap, minat, bakat, motivasi, motif, kesiapan mental dan faktor lainnya, yang kesemuanya berasal dari dalam diri sendiri. Faktor eksternal (bersumber dari luar diri sendiri), seperti tempat belajar, sarana belajar, bahan pelajaran, personil, kurikulum, metode pengajaran. Kedua faktor ini sangat dominan dan sangat berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar. Menurut Sudjana N. hasil belajar dibagi dalam tiga ranah yaitu:  Ranah Kognitif (Pengetahuan) Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri atas enam aspek yaitu pengetahuan/ ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.  Ranah Afektif (sikap) Berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.  Ranah Psikomotorik Berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotorik, yaitu gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan/ ketepatan, gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif. M. Surya (1981: 62) mengemukakan tujuh faktor yang mempengaruhi hasil belajar, ketujuh faktor ini adalah: (1) karakteristik belajar, (2) karakteristik guru, (3) karakteristik kelompok, (4) interaksi belajar dengan pelajar, (5) karakteristik fasilitas, (6) subject materi, dan (7) faktor lingkungan luar. Sejalan dengan itu Yulianti (2007: 36) mengutip pendapat Van Dalten yang lebih merinci mengenai faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, yaitu: (a) guru, (b) kurikulum, (c) lingkungan, (d) media, (e) siswa, dan (f) metode atau model pembelajaran. Horward Kingsley membagi tiga macam hasil belajar, yaitu: a) keterampilan dan kebiasaan, b) pengetahuan dan pengertian, c) sikap dan cita-cita. Selain itu, Gagne membagi hasil belajar menjadi lima kategori, yaitu: a) informasi verbal, b) keterampilan intelektual, c) strategi kognitif, d) sikap, e) keterampilan motoris (Sudjana, N., 2002: 21). Menurut Sudjana (2002: 13) hasil belajar adalah mencerminkan tujuan tingkat tertentu yang berhasil oleh siswa (anak didik) yang dinyatakan dengan angka atau huruf. Dalam bidang studi fisika hasil belajar yang dimaksudkan tak lain adalah nilai kemampuan siswa setelah evaluasi diberikan sebagai perwujudan dari upaya yang telah dilaksanakan selama belajar-mengajar berlangsung. Usman dan Setiawan (2001 : 29) mengemukakan bahwa belajar yang diperoleh setiap siswa dipengaruhi oleh dua faktor yaitu: 1. Faktor yang berada dalam diri siswa (faktor internal) Faktor internal atau faktor yang berada dalam diri siswa meliputi: a) faktor jasmaniah baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh melalui interaksi dengan lingkungan, yang dimaksud faktor ini adalah panca indra yang tidak yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya mengalami sakit, cacat atau perkembangan tidak sempurna, b) faktor fisiologis, yakni faktor potensial seperti kecerdasan, dan bakat, faktor intelektif seperti unsur-unsur kepribadian tertentu seperti kebiasaan, emosi, motivasi dan minat. 2. Faktor yang berasal dari luar diri siswa (faktor eksternal) Faktor eksternal atau faktor yang berasal dari luar diri siswa meliputi: i) faktor sosial yang terdiri atas lingkungan keluarga, masyarakat dan kelompok, ii) faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan teknologi dan kesenian, dan iii) faktor lingkungan fisik berupa fasilitas rumah dan fasilitas belajar. Sedangkan Faktor- faktor yang mempengaruhi hasil belajar menurut Hamalik (1986 : 123) disebabkan oleh: 1. Faktor intenal yaitu faktor yang ada dalam diri peserta didik sebagai faktor penentu berhasilnya proses belajar mengajar di kelas, misalnya minat siswa akan belajar, konsentrasi, bakat yang dimiliki siswa dan kematangan dan kesiapan dalam menerima pelajaran, bahkan perhatian dan motivasi siswa sebagai peserta didik dapat mencapai hasil belajar yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar dengan baik, dimana proses belajar dapat berlangsung dengan baik. Dimana proses belajar dapat berlangsung dengan baik apabila segala kebutuhan dasar peserta didik telah terpenuhi. 2. Faktor eksternal peserta didik yaitu faktor yang bersal dari luar diri pribadi peserta didik yang secara langsung berpengaruh terhadap setiap kegiatan belajar. Oleh karena itu, untuk dapat belajar yang efektif memerlukan lingungan fisik yang baik dan teratur. Lebih lanjut Slameto (1988 : 134) mengemukakan bahwa faktor luar yang berpengaruh terhadap prestasi belajar dapat dikelompokan dalam 3 faktor yakni: a) faktor sekolah, b) faktor keluarga, dan c) faktor masyarakat sekitar. Dari pengertian diatas, dapatlah dikatakan bahwa hasil belajar fisika adalah kecakapan nyata dari seseorang yang lahir dari proses atau perbuatan belajar yang dimanifestasikan dalam perbuatan atau perubahan tingkah laku yang berupa pengetahuan, pemahaman, sikap dan keterampilan yang kesemuanya dapat diperoleh dengan menggunakan alat ukur tertentu B. Hakikat Pembelajaran Sains (Ilmu Pengetahuan Alam) Kebudayaan dalam era globalisasi ini, harus didukung oleh sistem pendidikan yang menekankan sains dan matematika. Kebudayaan siswa berbakat menyukai sains (IPA), karena merupakan tantangan untuk kemelitan mereka. Siswa berbakat biasanya tertarik pada peralatan laboratorium dan pembelajaran sains, senang terlibat dalam dalam diskusi tentang teknologi misalnya energi nuklir, rekayasa biogenetik, penggunaan jantung buatan,dan implementasi organ hewan dalam tubuh manusia. Melalui diskusi siswa berbakat memahami dan menghargai bagaimana kebijaksanaan nasional dan kehidupan sehari-hari dipengaruhi oleh perkembangan dan penemuan ilmiah. 1. Karakteristik siswa berbakat sains Bagaimana kita dapat mengenali siswa berbakat sains? Beberapa peneliti berpendapat bahwa bakat sains tidak merupakan trait tetapi merupakan aspek dan intelegensi yang tinggi yang muncul karena perangsangan dari lingkungan dan kesempatan yang tersedia untuk berkembang. Peneliti lain percaya bahwa bakat sains ada, tetapi mereka menekankan komponen-komponen yang berbeda. Komponen itu meliputi kepekaan terhadap masalah, kemampuan untuk mengembangkan gagasan baru, dan kemampuan untuk menilai. 2. Guru sebagai fasilitator dalam sains Selkin dan Birch (1980) mengemukakan empat peran khusus dari guru yang mengajar sains kepada siswa berbakat; sebagai modal, pendidik nilai, pembangkit minat, dan sebagai penilai fungsional. Sebagai metode sains, guru menunjukan kemelitan dan keterampilannya. Sebagai pendidik nilai, guru mendorong siswa berbakat untuk menjajaki isu-isu yang penting dalam sains, dalam upaya mencari kebenaran. Sebagai pendorong minat, guru merangsang minat awal dan meluaskannya. Dalam peranannya sebagai fungsional, guru mencatat kecepatan dan kesempurnaan dari pemahaman siswa, gaya belajar mereka dan cara mengajar yang disukai (ceramah, diskusi, atau pusat belajar). Penting pula bagi guru memberi umpan balik kepada siswa berbakat mengenai tingkat kinerja mereka untuk menumbuhkan pertumbuhan mereka sebagai ilmuwan potensional. Munandar (2004) menemukan bahwa salah satu peran esensial dari guru sebagai fasilitator dalam sains adalah membina belajar mandiri (independent study). Langkah-langkah yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: a) mengakses minat siswa, b) memperkenalkan kepada siswa berbagai bidang minat, c) melakukan wawancara pribadi terhadap siswa, d) mengembangkan rencana tertulis, e) menentukan arah dan waktu dengan siswa berbakat, f) membantu siswa dalm mencari bermacam-macam sumber, g) melakukan sumbang saran terhadap produk akhir, h) memberi bantuan dalam metodologi yang perlu, i) membantu siswa berbakat dalam menemukan pendengar untuk presentasi siswa, dan j) menilai hasil studi bersama siswa berbakat dan pertimbangan bidang baru untuk diteliti. C. Metode Demonstrasi a. Pengertian Metode Demonstrasi Metode berasal dari bahasa latin “ methodos “ yang berarti jalan yang harus dilalui. Menurut Moedjiono dan Dimyati 1995 :45 ) “ metode adalah cara untuk melakukan sesuatu atau cara untuk mencapai suatu tujuan ”. Sedangkan demonstrasi adalah memperlihatkan atau memperagakan kerja atau proses suatu alat. Metode demontrasi merupakan metode mengajar yang berusaha untuk mengkombinasikan cara-cara penjelasan lisan, seperti metode ceramah dengan perbuatan yang berusaha membuktikan apa yang dijelaskan secara lisan, juga terjadinya sesuatu (Nana Sudjana, 2002: 83). Sehingga dapat dikatakan bahwa metode demontrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan. Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekedar memperhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri. Didalam metode demontrasi ada tiga unsur yang ditonjolkan, yaitu sesuatu proses pekerjaan atau keterampilan, cara mengerjakannya juga berkisar pada tindakan-tindakan persiapan sebagai berikut: 1. Memikirkan dan menentukan program demontrasi yang akan disajikan kepada siswa. Pahami program tersebut sematang mungkin dan coba dulu sebelum disampaikan kepada siswa. 2. Sampaikan dulu dengan sejelas mungkin pokok-pokok kegiatan dalam demontrasi yang akan dilakukan dan apa tujuan dari demontrasi tersebut dengan cara yang menarik hingga timbul keinginan untuk mengetahui dari seluruh anak yang melihatnya. 3. Siapkan segala peralatan yang diperlukan untuk melaksanakan demontrasi dengan seteliti mungkin. Gangguan dari ketidak siapan peralatan akan menggangu kosentrasi siswa dan akan melenyapkan minat mereka. 4. Lakukanlah demontrasi dengan kecepatan yang memungkinkan untuk diikuti oleh daya tangkap dan daya ingat anak didik kita. 5. Adakanlah diskusi pendek dengan siswa sebagai langkah untuk mengakhiri demontrasi dengan tujuan mengevaluasi hasil demontrasi, apakah cukup dimengerti atau tidak. b. Kelebihan dan Kekurangan Metode Demonstrasi Metode demonstrasi ini cukup baik jika digunakan dalam penyampaian bahan pelajaran sains dan teknologi, misalnya: bagaimana cara kerja suatu mesin cuci atau apa yang terjadi jika suatu balon berisi air dibakar dengan api dan sebagainya. Kelebihan metode demonstrasi antara lain: 1. Dapat merangsang siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti proses belajar. 2. Dapat menambah pengalaman anak didik. 3. Perhatian anak didik dapat dipusatkan, dan titik berat yang dianggap penting oleh guru dapat diamati. 4. Perhatian anak didik akan lebih terpusat pada apa yang didemonstrasikan, jadi selama proses pembelajaran anak didik akan lebih terarah dan akan mengurangi perhatian anak didik kepada masalah lain. 5. Bisa membantu siswa ingat lebih lama tentang materi yang di sampaikan. Pada penelitian ini metode demonstrasi yang digunakan adalah demontrasi sederhana dengan memanfaatkan alat dan bahan yang berada di sekitar kita. Metode demonstrasi pada kegiatan pembelajaran merupakan upaya untuk membangkitkan motivasi serta minat siswa terhadap pelajaran fisika dan memelihara rasa ingin tahu (inquiry) mereka sehingga dicapai hasil belajar yang lebih baik. Disamping itu dalam metode demonstrasi juga terdapat kelemahan-kelemahan yaitu: 1. Daya tangkap setiap siswa berbeda, sehingga guru harus mengulang-ulang suatu bagian yang sama agar siswa dapat mengikuti pelajaran. 2. Waktu yang diperlukan untuk proses belajar mengajar akan lebih lama dibandingkan dengan metode ceramah. 3. Demonstrasi akan menjadi metode yang kurang baik apabila alat yang didemonstrasikan tidak dapat diamati dengan seksama oleh siswa. Misalnya alat itu terlalu kecil atau penjelasan-penjelasan yang tidak jelas. 4. Demonstrasi menjadi tidak efektif bila tidak diikuti dengan sebuah aktivitas di mana siswa sendiri dapat ikut bereksperimen dan menjadikan aktivitas itu pengalaman yang berharga. 5. Tidak semua hal dapat didemonstrasikan di dalam kelas. Misalnya alat-alat yang sangat besar atau yang berada di tempat lain yang jauh dari kelas, atau bahan-bahan yang tidak berwujud misalnya gas freon. 6. Kadang-kadang, bila suatu alat dibawa ke dalam kelas kemudian didemonstrasikan, siswa melihat suatu proses yang berlainan dengan proses jika berada dalam situasi yang sebenarnya (Ahmad's, Site, 2008). Dari beberapa kelemahan dari metode demonstrasi yang telah dituliskan sebelumnya penulis dapat menyimpulkan bahwa kelemahan metode demonstrasi adalah tidak semua benda dan materi pembelajaran yang bisa di demonstrasikan dan metode ini tidak efektif bila tidak ditunjang oleh keterampilan guru secara khusus. Meskipun metode ini memiliki banyak kelemahan-kelemahan, penulis melihat metode ini sangat bagus sekali apabila diterapkan dalam pembelajaran fisika. Dimana pada pembelajaran fisika keterampilan untuk membuktikan suatu teori itu benar atau salah sangat diperlukan dengan melalui eksperimen atau suatu percobaan. c. Langkah-Langkah Pelaksanaan Metode Demonstrasi 1) Tahap persiapan  Merumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah proses demonstrasi berakhir. Tujuan ini meliputi beberapa aspek seperti aspek pengetahuan, sikap, atau keterampilan tertentu.  Mempersiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan. Garis-garis besar langkah demonstrasi diperlukan sebagai panduan untuk menghindari kegagalan.  Melakukan uji coba demonstrasi. Uji coba meliputi segala peralatan yang diperlukan. 2) Tahap pelaksanaan  Langkah pembukaan • Mengatur tempat duduk yang memungkinkan semua siswa dapat memperhatikan dengan jelas apa yang didemonstrasikan. • Mengemukakan tujuan apa yang yang harus dicapai oleh siswa. • Mengemukakan tugas-tugas apa yang harus dilakukan oleh siswa, misalnya siswa ditugaskan untuk mencatat hal-hal yang dianggap penting dari pelaksanaan demonstrasi.  Langkah pelaksanaan demonstrasi • Memulai demonstrasi dengan kegiatan-kegiatan yang merangsang siswa untuk berfikir, misalnya melalui pertanyaan-pertanyaan yang mengandung teka-teki sehingga mendorong siswa untuk tertarik memperhatikan demonstrasi. • Menciptakan suasana yang menyejukkan dengan menghindari suasana yang menegangkan. • Meyakinkan bahwa semua siswa mengikuti jalannya demonstrasi dengan memperhatikan reaksi seluruh siswa.  Memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut sesuai dengan apa yang dilihat dari proses demonstrasi itu.  Langkah mengakhiri demonstrasi Apabila demonstrasi telah selesai dilakukan, proses pembelajaran perlu diakhiri dengan memberikan tugas-tugas tertentu yang ada kaitannya dengan pelaksanaan demonstrasi dan proses pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini diperlukan untuk meyakinkan apakah siswa memahami proses demonstrasi itu atau tidak. Selain memberikan tugas yang relevan, ada baiknya guru dan siswa melakukan evaluasi bersama tentang jalannya proses demonstrasi itu untuk perbaikan selanjutnya (Sanjaya, 2006). d. Manfaat Fsikologis Metode Demonstrasi Manfaat psikologis dari metode demonstrasi yaitu: 1. Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan 2. Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari 3. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa Selama demonstrasi berlangsung hendaknya guru memperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Apakah demonstrasi dapat diikuti oleh setiap siswa. 2. Apakah demonstrasi yang dilakukan sesuai dengan tujuan yang telah dilakukan. 3. Apakah keterangan yang diberikan dapat didengarkan dan dipahami oleh siswa. 4. Apakah siswa telah diberikan petunjuk mengenai hal-hal yang perlu dicatat. 5. Apakah waktu yang tersedia dapat digunakan secara efektif dan efisien. D. Penelitian Yang Relevan Beberapa penelitian yang relevan terhadap peningkatan pemahaman konsep melalui metode demonstrasi adalah sebagai berikut. 1. Penelitian Endah Retno Dewi (2010), menyatakan bahwa hasil penelitian berdasarkan uji statistik ‘t-test’ menunjukkan adanya perbedaan hasil belajar antara metode demonstrasi dan metode audiovisual. Hal tersebut terlihat dari hasil pengukuran post-test pada metode demonstrasi menunjukkan nilai mean sebesar 90,10 sedangkan pada metode audiovisual menunjukkan nilai mean sebesar 79,60. Hasil uji t didapatkan terhitung > t tabel (6,528 > 2,093) dan secara statistik bermakna (peningkatan). 2. Penelitian Suwarnisih (2010), menyimpulkan bahwa: - Terdapat perbedaan prestasi belajar partograf yang diberi metode demonstrasi dan penuntun belajar job sheet. - Terdapat perbedaan prestasi belajar partograf antara yang memiliki motivasi tinggi dengan yang memiliki motivasi rendah. - Tidak ada interaksi antara metode dengan motivasi berprestasi pada mahasiswa AKBID Mitra Husada Karanganyar dan pada mahasiswa AKBID Kusuma Husada Surakarta. 3. Penelitian Hartanti, Widha (2010) menunjukkan bahwa metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SDN. Suru II Kab. Nganjuk. Ini terbukti dengan adanya peningkatan hasil belajar dan keaktifan siswa pada tiap siklusnya. Peningkatan aktivitas siswa pada pra siklus yaitu 18 % meningkat menjadi 65% pada siklus I dan 79% pada siklus II. Peningkatan rata-rata hasil belajar siswa pada pra siklus sebesar 55,6, meningkat menjadi 61,8 pada siklus I dan 73,6 pada siklus II. Peningkatan ketuntasan kelas pada pra siklus sebesar17,5%, meningkat menjadi 28% pada siklus I dan 79% pada siklus II. Dari hasil penelitian tersebut dapat dikatakan pula bahwa pembelajaran PKn dengan metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan aktivitas siswa selama pembelajaran. E. Hipotesis Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut : 1. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata hasil pre-test siswa kelas eksperimen dengan nilai rata-rata hasil pre-test siswa kelas kontrol sebelum pembelajaran pada materi pokok Fluida statis dan fluida dinamis . Untuk keperluan pengujian secara statistik dirumuskan : Ho : µ1 = µ2 H1 : µ1 ≠ µ2 Dengan: Ho : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata hasil pre- test siswa kelas eksperimen dengan nilai rata-rata hasil pre-test siswa kelas kontrol H1 : Ada perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata hasil pre-test siswa kelas eksperimen dengan nilai rata-rata hasil pre-test siswa kelas kontrol µ1 : Nilai rata-rata hasil pre-test siswa kelas eksperimen µ2 : Nilai rata-rata hasil pre-test siswa kelas kontrol 2. Nilai rata-rata post-test kelas eksperimen lebih baik secara signifikan daripada nilai post-test kelas kontrol pada materi pokok fluida secara statistik dapat dirumuskan : Ho : µ1 ≤ µ2 H1 : µ1 > µ2 Dengan: Ho : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata hasil post-test siswa kelas eksperimen dengan nilai rata-rata hasil post-test siswa kelas kontrol H1 : Ada perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata hasil post-test siswa kelas eksperimen dengan nilai rata-rata hasil post-test siswa kelas kontrol µ1 : Nilai rata-rata hasil post-test siswa kelas eksperimen µ2 : Nilai rata-rata hasil post-test siswa kelas kontrol 3. Nilai rata-rata gain siswa kelas eksperimen lebih baik daripada nilai rata-rata gain siswa kelas kontrol pada materi pokok Fluida. Secara statistik dapat dirumuskan sebagai berikut: Ho : µ1 ≤ µ2 H1 : µ1 > µ2 Dengan: Ho : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata gain pada siswa kelas eksperimen dengan rata-rata gain siswa kelas kontrol H1 : Ada perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata gain pada siswa kelas eksperimen dengan rata-rata gain siswa kelas kontrol µ1 : Nilai rata-rata gain hasil belajar siswa kelas eksperimen. µ2 : Nilai rata-rata gain hasil belajar siswa kelas kontrol

Tidak ada komentar:

Posting Komentar